Setiap menjelang Ramadan atau Lebaran, penentuan awal bulan Islam selalu jadi perbincangan. Banyak yang bingung mengapa tanggalnya selalu bergeser.
Satu hal yang pasti: penentuan kalender Hijriah sama sekali bukan tebak-tebakan. Di baliknya, ada sejarah peradaban yang kaya dan logika sains astronomi yang sangat presisi.
1. Sejarah Lahirnya Kalender Hijriah
Sebelum Islam, masyarakat Arab menggunakan kalender bulan tanpa angka tahun. Mereka menamai tahun berdasarkan peristiwa besar, seperti Tahun Gajah.
Sistem kalender Hijriah baru resmi lahir pada masa Khalifah Umar bin Khattab (tahun ke-17 setelah Hijrah) demi kerapian administrasi negara. Atas usulan Ali bin Abi Thalib, titik awal penanggalan dihitung dari peristiwa Hijrahnya Nabi Muhammad SAW dari Mekah ke Madinah—sebuah momen transformasi besar bagi peradaban Islam.
2. Logika Sains: Bagaimana Astronomi Membaca Bulan?
Berbeda dengan kalender Masehi yang berbasis matahari, kalender Hijriah sepenuhnya berbasis pergerakan bulan mengelilingi bumi (lunar calendar).
- Siklus 29,5 Hari: Waktu satu putaran bulan (Bulan Sinodis) adalah 29 hari 12 jam 44 menit. Karena hari harus bulat, maka umur bulan Hijriah hanya 29 atau 30 hari. Tidak pernah ada tanggal 31.
- Ijtimak (Konjungsi): Posisi ketika bumi, bulan, dan matahari berada di satu garis lurus. Ini tanda berakhirnya siklus bulan yang lama.
- Hilal: Bulan sabit muda sangat tipis yang muncul pertama kali setelah ijtimak saat matahari terbenam. Inilah penanda fisik masuknya bulan baru.
3. Cara Menghitung Awal Bulan: Hisab vs Rukyat
Untuk mendeteksi hilal, sains modern dikombinasikan dengan metode keagamaan melalui dua cara:
- Hisab (Perhitungan): Menggunakan rumus matematika astronomi untuk menghitung posisi bulan secara presisi bahkan hingga puluhan tahun ke depan.
- Rukyat (Pengamatan): Verifikasi faktual di lapangan menggunakan mata telanjang atau teleskop canggih dan kamera digital sesaat setelah matahari terbenam.
Mengapa sering berbeda? Perbedaan biasanya terjadi karena standar minimal ketinggian hilal yang diadopsi berbeda. Di Indonesia dan negara Asia Tenggara (MABIMS), awal bulan baru dianggap sah jika hilal sudah mencapai ketinggian minimal 3 derajat dan sudut elongasi minimal 6,4 derajat.
Kesimpulan
Sistem kalender Hijriah adalah perpaduan indah antara sejarah spiritual dan akurasi sains. Penentuan awal bulan didasarkan pada hitungan pergerakan benda langit yang terukur, mengajak kita untuk memahami alam semesta dengan ilmu pengetahuan.