Pertempuran 10 November di Surabaya menjadi salah satu dari sekian banyak pertempuran luar biasa yang menimpa para prajurit dan pahlawan Revolusi Indonesia khususnya di kota Surabaya. Sejak awal, di balik pertempuran Surabaya adalah keengganan rakyat Surabaya untuk direbut kembali oleh Belanda yang mengambil sekutu di Surabaya dengan alasan menguasai dan membebaskan tawanan perang setelah Jepang kalah dalam Perang Dunia. II. Sikap antipati rakyat terlihat jelas ketika rombongan pasukan sekutu yang didampingi NICA tiba di Surabaya pada akhir September 1945. Penolakan terhadap kehadiran NICA jelas ditunjukkan oleh anggota Suroboyo dalam peristiwa robeknya bendera Belanda. dalam adegan Hotel Yamato.
19 September 1945 ketika banyak pemuda Indo-Belanda (sinyo) berkumpul di hotel Oranye (hotel Yamato) untuk mencari masalah dengan mengibarkan bendera Belanda yang tiba-tiba mendapat respon dari masyarakat Surabaya dengan memanjat dan merobek bagian biru. menaikkan bendera. dua warna yang tersisa adalah merah dan putih pada pilar atas hotel Yamato (Silas et al., 2018). Solusi ini benar[1]benar tumbuh dari hati masyarakat tanpa ada intervensi dari instansi pemerintah atau pemerintah kota Surabaya saat itu. Kekuatan yang berasal dari hati rakyat merupakan cikal bakal kekuatan besar Arek Suroboyo melawan pasukan koalisi di hari-hari berikutnya. Sejalandengan itu perlawanan mempertahankan kemerdekaan dipimpin oleh salah satu tokoh bernama Sutomo (Bung Tomo), pada masa itu Bung Tomo mampu membakar daya juang masyarakat Surabaya melalui pidatonya yang membara-bara.
Dari adanya tokoh Bung Tomo tersebut, terdapat nilai-nilai penting yang dapat diajarkan pada peserta didik atau para siswa SMA terutama akan pentingnya kesadaran sejarah melalui peristiwa tersebut. Adapun nilai-nilai yang terkandung diantaranya:
- Identifikasi data historis dan hubungannya.
- Penuhi pikiran kita dengan ide-ide.
- Meningkatkan hati nurani dan dan kecerdasan, mempelajari dan memikirkan masa lalu dan menghadapi masa depan.
Dengan demikian, pengajaran sejarah atau mengenal sejarah merupakan konsep psikologis atau sikap mental dan pola pikir yang menjadi kekuatan untuk berpartisipasi aktif dalam urusan kebangsaan. Pemanfaatan atau penggunaan sejarah Pertempuran 10 November 1945 di Surabaya untuk menumbuhkan kesadaran sejarah siswa SMA pasti akan lebih efektif karena peristiwa sejarah ini benar[1]benar terjadi di dekatnya atau lingkungan sekitarnya, sehingga ketertarikan siswa untuk mengetahui akan peristiwa tersebut sangat tinggi.
Dengan demikian kesadaran sejarah perlu dikembangkan dalam diri peserta didik supaya terbentuk karakter-karakter yang penting bagi peningkatan kualitas peserta didik, yang mana hal tersebut memiliki keterkaitan dengan pengembangan kualitas sumber daya manusia pada kemudian hari.
Artikel ini diambil dari jurnal